Cerita Sex Diperkosa Dua Petugas Hotel Sambil Direkam

Cerita Sex Terbaru
Cerita Sex Diperkosa Dua Petugas Hotel Sambil Direkam

Kumpulan cerita seks terbaru, cerita dewasa, cerita panas, cerita pemerkosaan perawan, cerita sex tante, cerita ngentot, cerita sex remaja dan cerita hot abg akan dibahas secara lengkap dan transparan. Pantengin terus setiap harinya karena akan selalu update cerita sex terbaru untuk sobat semua.

Cerita Pemerkosaan

Cerita Sex Terbaru – setelah sebelumnya ada kisah Cerita Selingkuh dengan Adik Istriku yang Ganjen dan Genit, kini ada Cerita Sex Diperkosa Dua Petugas Hotel Sambil Direkam. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan terbaru cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

2 hari menginap di hotel Amaris di kawasan wisata pantai membuat keluarga Rahmat sejenak melupakan hiruk pikuk kota. Di sana setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, berenang, latihan diving, dan mengabadikan kegembiraan mereka sekeluarga menggunakan kamera foto dan handycam.

Tapi di hari ke-3, Nana merasa kecapaian dan tidak ikut suami dan dua anaknya bepergian. Ia memilih diam di kamar hotel untuk istirahat.

Pagi-pagi, Rahmat, dan Riko-Riki berangkat untuk menikmati indahnya pulau-pulau kecil di sekitar kawasan wisata itu yang harus ditempuh dengan menyeberang perahu boat selama setengah hari.

“Ya sudah mama tinggal saja di hotel, istirahat.. paling besok kita sudah balik,” kata Rahmat, saat hendak berangkat. Ia mengerti benar stamina istrinya kurang fit kalau harus menyeberang menggunakan boat. Riko dan Riki mencium pipi mamanya sebelum pergi.

Hotel Amaris tempat mereka menginap jauh dari pemukiman penduduk. Tempatnya memang sangat nyaman untuk berlibur menghilangkan suntuk, dengan rindang pepohonan di sekitar hotel dan panorama pantai yang berpasir putih.

Hanya saja, keluarga Rahmat datang ke sana saat bukan musim libur, dan suasana hotel memang sedang sepi tamu. Ini juga yang membuat pengelola hotel memperlakukan keluarga Rahmat secara spesial agar mau menginap lebih lama di sana. Sebab mereka menyewa dua kamar, satu untuk mereka dan satunya untuk anak-anak.

Nana bangun sekitar pukul 11 siang, badannya sudah lebih segar dengan istirahat yang cukup. Ia lalu mandi dan menyantap sarapan yang diantar sedari pagi.

Nana tergolong wanita cantik yang di usia ke 35 tubuhnya semakin menggairahkan dari segi seksual. Payudaranya 36d dan tubuh tinggi montok berisi dengan pantat yang seksi dibalut kulit putih bersih. Banyak yang bilang wajah dan perawakan Nana mirip artis Mona Ratuliu.

Setelah menikmati sarapannya, Nana mencoba rileks di sofa menonton televisi. Nana mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek longgar agar lebih nyaman.

Tayangan kuliner di televisi hampir membuat Nana yang berbaring di sofa terlelap lagi, tapi ketukan pintu kamar menyadarkannya.

Salman (40) dan Rudi (28), dua orang petugas Hotel itu berdiri di muka pintu saat Nana membukanya.

“Maaf mengganggu bu,” kata Salman ramah. Rudi berdiri di belakang Salman.
“Oh nggak apa.. ada apa ya?,” tanya Nana.
“Tadi pagi kami dipesan pak Rahmat, disuruh memeriksa kemari, katanya ada gangguan kerusakan di shower dan saluran pembuangannya?,” jawab Salman.

Salman lalu mengenalkan diri kalau ia dan Rudi adalah petugas Hotel yang bertanggung jawab jika ada keluhan kerusakan fasilitas hotel.

“Ehm.., oh iya. Tadi sempat ke sini ya? Maaf ya saya bangunnya kesiangan.. ayo silahkan masuk pak,” Nana baru ingat tadi pagi sempat ngomel-ngomel karena kerusakan di kamar mandi hotel.

Nana menyilakan dua petugas hotel itu masuk. Tak disangka saat itulah niat bejad dua petugas Hotel dan kesempatan yang tersedia di saat Nana seorang diri, membuat Nana diperkosa di kamar sewaan keluarganya.

Rahmat, suami Nana bersama anak mereka, Riko dan Riki kembali ke Hotel Amaris dua hari kemudian setelah menikmati keindahan pulau-pulau kecil di seberang kawasan pariwisata itu.

Malam hari setelah Riko dan Riki masuk ke kamar mereka dan tidur, Rahmat mencari tahu apa penyebab istrinya bermuram muka sejak mereka kembali ke Hotel.

“Mama masih sakit ya?, kok diam terus dari tadi,” tanyanya pada Nana.
“Nggak papa, mama sudah sehat. Tapi selama papa dan anak-anak pergi….,” Nana tak melanjutkan ceritanya. Ia tengkurap di ranjang dengan raut sedih, sementara Rahmat dengan sabar menunggu jawaban istrinya itu.
“Ayo teruskan mama, ada apa sebenarnya?,” Rahmat penasaran.
“Mama diperkosa pa.. mama diperkosa oleh dua petugas hotel ini…, dan sekarang mereka sudah kabur,” isak Nana menjadi-jadi.

Nana pun bercerita bagaimana dua petugas hotel itu datang ke kamar untuk memperbaiki shower. Namun saat kamar tertutup, mereka meringkus Nana dan mengikatnya. Mulutnya disumpal kain dan matanya juga ditutup ikatan saputangan. Lalu, mereka memperkosa Nana berkali-kali.

“Apa..??,” Rahmat terkejut bukan main mendengar istri tercintanya digauli secara paksa oleh dua petugas hotel. Ia berusaha menghibur Nana agar tidak trauma, dan berjanji segera melaporkan kejadian itu ke kantor polisi esok harinya.

Rahmat sangat terpukul mendengar cerita istrinya. Setelah menenangkan Nana dan membiarkan ia terlelap, Rahmat kemudian keluar kamar hotel menuju tepian pantai untuk menyepi sambil merencanakan melaporkan masalah tersebut esok paginya.

Tapi, sebelum keluar kamar Rahmat menemukan handycam milik Riko, anaknya tergeletak di dekat pintu kamar hotel. Handycam itu tidak dibawa ketika Rahmat bersama dua anaknya melancong ke pulau–pulau kecil dua hari lalu. Ia lalu memungut handycam itu dan membawanya keluar.

Di tepi pantai yang sepi itu, Rahmat melamun panjang memikirkan nasib keluarganya. Pergi berlibur untuk melepaskan beban dari himpitan kerja dan hiruk pikuk kota, justru membawa problem yang sangat berat dan aib.
Tangannya iseng menghidupkan handycam untuk mengambil gambar bintang di langit malam itu. Namun niat ia urungkan karena pita kaset ternyata penuh. Penasaran, Rahmat kemudian merewind kaset dan memutarnya untuk melihat isinya.

Mata Rahmat terbelalak saat rekaman handycam tertayang di LCD handycam. Ternyata isinya adalah adegan pemerkosaan yang menimpa Nana, istrinya.

Nana dalam keadaan terikat, masing-masing tangannya diikat di pojok sisi ranjang membuat posisi Nana terlentang dengan kaki terbuka. Ia hanya mengenakan CD dan Bra berwarna biru muda, sementara mata dan mulutnya tertutup erat dengan ikatan sapu tangan.

Tubuh Nana yang putih mulus meronta-ronta di atas ranjang seolah menuntut dilepaskan. Suaranya hanya ehmmm…ehmmm… seperti berteriak, tapi tak bisa lepas karena mulutnya tersumbat.

“Ha.. ha.. ha.. ini dia.. tante girang yang sudah nggak tahan di atas ranjang,”

suara seorang pria terdengar dalam rekaman itu. Rahmat mengenal suara itu, itu suara Robi, bujangan petugas hotel. Nampaknya Robi yang memegang handycam dan mengambil gambar Nana di ranjang.

“Eng.. ing.. eng… ini dia gigolonya…,” kata Robi, di saat yang sama muncul gambar Salman petugas hotel lainnya.

Salman hanya menggunakan kolor putih, di baliknya nampa penisnya yang mulai menonjol tegang. Salman menyeringai di kamera sambil lidahnya menjilati bibir sendiri seakan hendak menyantap makanan lezat.
Salman naik ke ranjang di mana Nana terikat. Ia berlutut di antara kaki Nana sambil tanganya mulai mengusapi kaki mulus Nana. Nana memberontak meronta-ronta, teriakan tertahan terdengar keras.

“Eit.. eit… percuma tante… lebih baik tante nikmati saja, ketimbang melawan ntar malah sakit lho.. he..he..he..,” Salman terus meraba Nana. Mulai dari kaki, paha, perut, dan kini tangannya mulai menjalar ke payudara Nana yang masih terbungkus Bra.

Nana terus meronta berusaha melawan, tetapi percuma karena ikatan di tangan dan kakinya sangat kuat menggunakan tali plastik jemuran.

Kurang ajar, pikir Rahmat saat menyaksikan adegan itu di handycam. Rasanya ia ingin sekali menemukan petugas hotel itu dan menghajarnya. Rahmat melanjutkan menyaksikan adegan di LCD handycam, kini tangan Salman mencabik paksa Bra Nana hinga tanggal. Payudara montok Nana sampai tergoncang-goncang.

Pemandangan itu membuat Salman makin bernafsu dan seketika bibirnya mulai menjelajahi payudara Nana, bergantian, satu dihisap satu diremas-remas.

“Ehmmhhkk… ehmhkkk…,” Nana terus meronta berusaha melawan, tapi Salman tak peduli dan terus melakukan aksinya menikmati payudara Nana.
“Eihh.. tenang aja tante.. nanti juga wenak..,” kata Salman sambil tanganya memberi kode ke kamera agar mendekat.
“Waduh.. ini bayi tua lagi netek nih…, cucu mamah gede sih,” suara Rudi terdengar dalam rekaman, sementara adegan itu diclose-up. Nampak jelas bagaimana lidah Salman bermain di putting susu Nana, sesekali dihisap dengan keras, lalu dijilati lagi pelan perlahan.

Handycam di tangan Rudi juga merekam jelas bagaimana putting susu Nana perlahan-lahan mengeras setelah menerima jilatan dan hisapan Salman.

Handycam kemudian diarahkan Rudi ke bagian bawah, merekam tangan kiri Salman yang mulai menggerayangi CD Nana. Gambar kkembali diclose-up, pinggul Nana bergerak kencang berusaha menghindari sentuhan Salman, namun percuma. Jemari-jemari kekar Salman mulai menyusup ke balik CD dan menggelitik klitoris Nana, sementara di bagian atas yang tak terekam kamera bisa dipastikan Salman makin bergairah menghisapi susu Nana.
Rudi menjauh dan mengambil gambar utuh. Salman bergerak membuka penutup mata Nana, lalu ia mencabik CD Nana dan menjilatinya beberapa kali.

“Ha.. ha.. ha.. sudah kubilang, tante pasti suka. Ini buktinya air pepeknya sudah mulai netes. Makanya jangan melawan ya,” Salman menghisap CD Nana lalu menghempasnya ke arah kamera.

Rudi mengclose-up wajah Nana. Mata Nana melotot marah dan mulutnya yang masih tertutup ikatan sapu tangan mengeluarkan suara tertahan seperti membentak protes.

“Waduh.. si tante makin galak makin seksi nih.. ayo embat aja kang.., ntar gantian kita.., ” suara Rudi menyemangati Salman.
“Santai aja Rud.. makin galak makin asyik rasanya. Sekarang kita lihat masih galak nggak kalau itilnya diisapin….

Ayo ke siniin kameranya biar lebih jelas gambarnya,” Salman meremas susu Nana dan menjawil dagunya, Nana semakin marah, lalu Salam mengarahkan kepalanya ke selangkangan Nana.

Handycam di tangan Rudi mendekat ke selangkangan Nana. Jemari Salman membelai-belai vagina Nana yang sudah telanjang penuh, sementara Nana tetap berusaha melawan dan meronta-ronta.

Bibir vagina Nana direngkah dua jemari Salman hingga terbuka, warnanya merah muda dan mulai basah lantaran klitorisnya dimainkan jemari Salman.

“Ini itil namanya frend.. makin digosok, tante makin kenimatan… nggak tahan.. ha ha ha…,”suara Salman bergairah, sementara gambar di LCD menunjukkan jempolnya menekan dan menguyak klitoris Nana.

Bibir Salman kemudian mendekat ke vagina Nana, lidahnya mulai menjulur menjilati klitoris Nana. Telapak tangannya menekan bagian atas vagina Nana yang ditumbuhi bulu halus tercukur rapi.

“Hmmm.. sedep bener nih tante. Nggak ada bau terasinya pepeknya nih…he he. Rud kau suting mukanya tante pas aku mainin itilnya ya..,” Salman kembali menjilati vagina Nana, kali ini ssambil dihisap-hisap.

Rudi mereka ekspresi Nana. Matanya kini terpejam dan mulutnya yang tersumpal masih berusaha teriak, namun tubuhnya sudah lemah tak mampu meronta lagi. Tenaga Nana sudah terkuras karena berusaha melawan ikatan di tangan dan kaki.

“Ehmmhh.. ehmmmhhpp.,”

suara Nana melemas juga, rontanya justru menjadi gemulai membuat Salam makin nafsu menghisap vaginanya. Jilatan-jilatan lidah Salman di vagina Nana membuat pikirannya bercabang. Ia mulai merasakan kenikmatan yang tak mungkin dihindari.

“Ehmm.. kenapa tante? Nikmat ya?,” suara Rudi bertanya sambil wajah Nana di close-up. Nana melotot sambil berusaha mengangkat kepalanya, ia berusaha berteriak lagi, memprotes gambarnya direkam Rudi.

Rahmat semakin marah melihat adegan itu. Dalam hatinya ia menaruh dendam kesumat pada Salan dan Rudi yang mengerjai istrinya. Tapi adegan demi adegan yang dilihatnya di layar LCD handycam membuat Rahmat semakin penasaran.

Rudi tiba-tiba menghempas sapu tangan penutup bibir Nana. Tapi Nana justru terpejam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi teriakan.

“Ayo tante.. mau marah apa? Mau ngomong apa.. ayo teriak lagi?,” suara Rudi meledek Nana.
“Ehmm.. jangan… amphuunnn.. jangan disuting… amphunnn,”

suara Nana memelas dengan nafas yang mulai berat dan mulai terangsang.

“Ampun kenapa tante..?,” suara Rudi kembali menggoda.
“Akhhss.. amphuunnnn… oughhh… mmpphh..,” mata Nana kembali terpejam, tubuhnya bergetar seperti menahan birahi yang memuncak. Dari LCD handycam, Rahmat bisa menandai ciri-ciri wajah istrinya mulai dilanda gairah seksual.

Di bagian bawah Salman terus menjilati vagina Nana, Rudi mengarahkan kameranya di bawah. Kepala Salman seakan terbenam di selangkangan Nana, saat di close-up nampak vagina Nana sudah sangat basah dan cairannya terus dijilati dan dihisap Salman. Pinggulnya bergoyang mengikuti irama jilatan Salman.

“Oughh.. ampphhhuuunnn… akhhsss..,” suara Nana terdengar.
“Nih suting nih.. nah lihat nih.. tante udah nggak tahan mau dientotin nih..,” kata Salman sambil jemarinya membuka bibir vagina Nana.

Handycam Rudi mengclose-up vagina Nana yang terkuak oleh jemari Salman. Terlihat jelas dinding vagina Nana berkedut-kedut dan nampak dibaluri lendir birahinya sendiri.

Salman masih menahan vagina Nana dengan jarinya, lalu penis Salman terekam di kamera sudah tegang mengacung dan mulai mendekati bibir vagina Nana.

“Eh Rud.. kau rekam yang lengkap ya.. aku entotin dulu nih tante, ntar kalau aku cabut kontolku.. kau coles-up lagi pepeknya ya…biar kau lihat bagaimana kalau tante puas.. ha ha..,” Salman menyeringai.

Salman mengambil posisi tepat ditengah kaki Nana, dan perlahan menuntut penisnya ke bibir vagina Nana.

“Amphhuunn.. tolong lepaskan saya.. jangan.. tolong jangan…,”Nana memelas pasrah, seolah sadar sesaat lagi ia akan disetubuhi pria lain yang bukan suaminya.
“Nah.. begitu dong.. yang halus.. jangan marah marah kayak tadi hah..!!

Ayo sekarang mau apa, mau dilepas?. Rud turuti tante ini, lepas ikatan kakinya Rud, cepat…,” Salman tetap pada posisi siap menindih Nana, ujung penisnya sudah menyentuh bibir vagina Nana yang merekah.

“Akhhss.. jangan pak.. amphun.. jangan..,”

Nana memelas sejadi-jadinya dengan suara parau saat merasakan benda hangat menempel di bibir vaginanya. Rudi merekam semuanya sambil melepas ikatan di kaki Nana. Dari posisi itu nampak jelas penis Salman sudah menempel di bibir vagina Nana.

“Sudah siap tanthee.. ouh.. sudah siap kubawa ke alam nikmathhh.. ahh..,”

Salman menindih tubuh Nana dan memegang kedua pipi Nana agar wajah Nana menghadap ke wajahnya. Pinggulnya mulai ditekan membuat kepala penisnya menembus bibir vagina Nana.

“Ngghhh… amphuunnn.. jangahhnnn…tolong janganhhh… engghhhmmm… ouuhhhhggghhh… akhhhssss,” suara

Nana yang memelas berubah menjadi desahan tak tertahan saat Salman mulai memasukkan penis ke vaginanya dan mulai memompa keluar masuk.

Rahmat melihat bagaimana tubuh mulus istrinya menggelinjang setiap sentakan pinggul Salman terjadi. Nana mendesah tak karuan ditindih tubuh Salman yang kekar. Perawakan Salman agak pendek, penisnya juga lebih pendek dari milik Rahmat. Tapi penis hitam Salman jauh lebih gemuk dan lebih tegar dari milik Rahmat.
Rudi mengclose-up bagian yang sedang intim itu. Bibir vagina Nana sampai monyong-monyong didera penis Salman. Salman menghentak pinggulnya semakin cepat semakin keras.

“Akhhss… ouhhh.. ahhhh… sssttt…ughhh…,” Nana terpejam sambil mendesah menahan nikmat, ia tak sadar wajahnya diclose-up oleh Rudi.

Rudi kemudian menjauh mengambil gambar lengkap. LCD handycam yang dilihat Rahmat menampakkan bagaimana kaki mulus Nina kini justru merangkul pinggul Salman yang semakin cepat memacunya, nafasnya terdengar keras memburu. Desahan Nina juga makin keras, dan kepalanya bergerak ke kanan-kiri.

“Ougghhh… argghhh… huh… nikmat sekalih tubuhmuuhh tannteehhh… ouhhh.. aaahhhhhkkkk…ouhhh nikhhhmmaaathhhh….,”

Salman mencabut penisnya dan berlutut di hadapan Nana dengan kepala menengadah dan tubuh bergetar, sesaat kemudian penisnya menyemburkan sperma sampai ke perut Nana. Salman mencapai puncaknya.

“Waduh.. akang ini belum apa-apa tuh udah ngecrot kemana-mana maninya.., sini gantian.. biar saya ambil alih memuskan tante..,”

Rudi bergegas naik ranjang menggantikan posisi Salman. Rekaman di handycam sempat goyang menampilkan gambar lantai, cermin rias, dan langit-langit kamar.

Kini Salman yang merekam gambar, sementara Rudi sudah bugil menindih tubuh Nana. Penis Rudi sangat kekar, panjang dan besar. Kotak-kotak kekar di perut Rudi menggambarkan keperkasaan, ia memang perenang tangguh di kawasan wisata itu.

“Sudahhh… amphuunnn… jangan lagihh.. amphunnnhhh…,”

pinggul Nina bergerak ingin menghindari penis Rudi yang sudah mengarah ke vaginanya, tapi percuma karena kedua tangannya masih terikat membuat posisinya tertahan terlentang.

“Tenang tante sayang.. kan masih tanggung tadi.. sekarang saya kasih biar tante puas..,”Rudi tiba-tiba menindih

Nana, ia melumat bibir ranum Nana, meremas susunya, dan mulai menggenjot penisnya keluar masuk ke vagina Nana.

Nana mulai mendesah, gerakan Rudi membuat ia kembali terangsang hebat setelah puncak klimaksnya hampir sampai bersama Salman tadi.

Rahmat melihat dari layar LCD bagaimana istrinya mulai hilang kontrol dan tak menyadari sedang berhubungan intim dengan lelaki lain yang memperkosanya. Nana terpejam dengan bibir terus dilumat Rudi, malah Nana nampak membalas lumatan-lumatan Rudi, nafas mereka sama-sama memburu bercampur desahan.

“Goyang yang keras Rud.. si tante dah mau sampai puncak tuh…,”

suara Salman terdengar, sementara gambar di close-up ke wajah Nana dan Rudi yang berpagutan bibir. Rudi menggocok semakin kencang, kaki Nana merangkul pinggul Rudi seolah ingin hantaman yang lebih sempurna di vaginanya.

“Oughh… ghimmana tanntehhh… enakkhhhss…??,”

Rudi melepas pagutannya dan terus menggenjot Nana sambil mengeluarkan obrolan nakal. Nana semakin lepas kendali di saat puncak kenikmatan nyaris dirasakannya di bawah himpitan tubuh Rudi yang kekar.

“Gimana tanthee… jawabbbhhh aghhh…,”
“Ngghhhmm ahhsss….,” Nana mendesis.

Rudi menggenjotnya lebih keras, dan terus meluncurkan tanya pada Nana.

“Akhhss.. amphunnn… ahhhsss enakhhhmaaass.. sssttt..,”
“Apa tanthe??? Yang keras bilang…,”
“Ughhh… ssstnnikkhhmmmaatt… ssshhh aaahhh… ihhh…,”
“Enakh digoyanghhh… ayo bilang…,”

Rudi terus memancing Nana. Nana menggelinjang kenikmatan dengan nafas semakin berat memburu. Peluh mereka bercampur menetes.

“Apanya yang nikmat tantehh…,”
“Ssttt.. ahhgg.. konthhh… tholll… assttt oughhh…,” Nana menjawab tanpa sadar.
“Yahhkk begithuu tannthee… akhhhsss… nihhhh.. ouh.. pepekmu juga enakhh tannte…,”

Rudi semakin liar menggenjot Nana. Kini kaki kanan Nana diangkat ke bahunya lalu dengan posisi itu Nana kembali dihajarnya.

“Tanhtee enakhh diapainnn hahh..??,” Rudi memacu penisnya semakin cepat, ia mulai merasakan kedutan dari dinding vagina Nana menandakan Nana hampir klimaks.

Salman mengclose up lagi wajah Nana yang terpejam, sementara Rudi menggenjot Nana sambil terus bertanya nakal. Salman berusaha melepaskan ikatan tangan Nana sambil terus merekam pertempuran ranjang itu.

“Aghh.. dihennntoothhinnhh aaakhhsss… ahhh. Amphunnnn uhhh enthooottt… akhhhsss ouhhh.. sssttt enghhhmmm,”desah Nana.
“Diperkosa ini tanthee.. enakhss diperkosaaa..??,”
“Yeahhh… akhhsss eeehhhnnn…naaakkhhh.. perkohhssaa…aahhhsss…,” Nana menceracau mengukuti pertanyaan

Rudi. Tangan Nana yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Rudi tapi justru merangkul leher Rudi dan meremasi rambut Rudi dari belakang.

Dari LCD handycam di tangannya, Rahmat melihat istrinya sudah mencapai klimaksnya, suara Nana terdengar sangat menggairahkan saat itu. Tanpa sadar penis Rahmat mulai tegang.

“Ayooo.. tante.. ahhh.. ayohh…,”

Rudi juga hampir mencapai klimaks, secara masksimal tenaganya dipacu menggoyang Nana. Tubuh Nana mulai bergetar hebat dan kakinya seperti kejang merangkul pinggul Rudi yang terus bergoyang di atas tubuhnya.

“Akkhsss.. ahhhh… ammphuuunnnnhhhh… ssttttt akkhhhsssss…. Mmmmphhhmmmm… emmphhhhpppp,”

pertahanan Nana akhirnya bobol, tubuhnya seakan kejang, tangannya menarik rambut Rudi, dan kepalanya terangkat meraih wajah Rudi. Saat klimaksnya membludak, Nana justru melumat bibir Rudi, memeluk Rudi kuat-kuat, melepaskan kedutan-kedutan nikmatnya.

“Akhhh… ouhh.. yeahhh.. yeahhhh… ouhhh… yeaaahhhhh…,”

Rudi melenguh kejang melepas lumatan Nana. Rudi juga mencapai klimaksnya sambil memeluk erat tubuh Nana, mereka berpelukan erat dan saling menekan kenikmatan di vital mereka secara bersamaan, lalu lemas beberapa saat kemudian.

Salman mengclose-up bagian vital itu, perlahan Rudi mencabut penisnya. Air sperma Rudi terhujam di dalam vagina Nana perlahan menembus keluar meleles di bibir vagina Nana. Rudi berbaring di sisi Nana, sementara Salman mengangkangkan kaki Nana dan menguak vagina Nana dengan tangan kirinya, tanga kanannya mereka close up vagina Nana.

Rahmat melihat vagina Nana masih berkedut-kedut. Tiap kedutannya mendorong keluar sperma Rudi meleleh di bibir vaginanya.

Gambar di handycam kemudian terputus dan menampakkan Nana yang tertidur pulas di ranjang, bugil tanpa ikatan.

“Ya beginilah kondisi nyonya sombong yang sudah kami perkosa sampai puas.. diperkosa malah kenikmatan dia sampe tidur ngorok ha.. ha.. ha..,”

suara Salman terdengar. Rudi dan Salman terus mengeksplore tubuh telanjang Nana sambil berkomentar. Dari sana Rahmat tahu kalau mereka nekad memperkosa Nana karena Nana menyinggung perasaan mereka. Waktu hendak membenahi shower dan kamar mandi, Nana sempat melontarkan kata-kata menyuruh mereka berdua cepat selesaikan pekerjaannya karena Nana tak tahan bau badan mereka.

Tangan Rahmat luruh dan handycam hampir jatuh. Pikirannya kacau setelah melihat rekaman pemerkosaan itu. Bukankah Nana akhirnya menikmati juga?, bagaimana mungkin ini dilaporkan ke polisi?, akan lebih menjadi aib jika nantinya dua pelakunya membeberkan ini suka sama suka..

Rahmat berteriak sejadi-jadinya, lalu kembali ke kamar hotel dan menggauli Nana secara brutal membayangkan memperkosa istrinya sendiri.

Cerita Sex Diperkosa Dua Petugas Hotel Sambil Direkam by Desahtante.comCerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.

Cerita Pemerkosaan