Cerita Dewasa Melampiaskan Nafsu Seks kepada Pembantu Montok

Cerita Dewasa Melampiaskan Nafsu Seks kepada Pembantu Montok
Cerita Dewasa Melampiaskan Nafsu Seks kepada Pembantu Montok

Cerita Sex Bergambar – Kumpulan cerita seks terbaru, cerita dewasa, cerita panas, cerita pemerkosaan, cerita pemerkosaan perawan, cerita sex tante, cerita ngentot, cerita sex remaja dan cerita hot abg akan dibahas secara lengkap dan transparan. Pantengin terus setiap harinya karena akan selalu update cerita sex terbaru untuk sobat semua. Selamat menikmati Cerita Dewasa Melampiaskan Nafsu Seks kepada Pembantu Montok berikut ini.

Singkat Cerita Aku adalah seorang Ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan 4 tahun. Isteriku bekerja sebagai Direktur di suatu prusahaan swasta. Kehidupan rumah tanggaku harmonis dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan isteriku tidak ada hambatan sama sekali. Kami memiliki seorang pembantu, Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih lugu karena kami dapatkan langsung dari desanya di Jawa Timur. Wajahnya biasa saja, tidak cantik juga tidak jelek, kulitnya bersih dan putih terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi sangat ideal dengan postur tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar, hanya sebesar nasi di Kentucky Fried Chicken.

Cerita ini terjadi pada tahun 2014, berawal ketika aku pulang kantor kurang lebih pukul 14:00, jauh lebih cepat dari biasanya yang pukul 19:00. Anakku biasanya pulang dengan ibunya pukul 18:30, dari rumah neneknya. Seperti biasanya, aku langsung mengganti celanaku dengan sarung kegemaranku yang tipis tapi adem, tanpa celana dalam. Pada saat aku keluar kamar, nampak Sumiah ( Pembantu Montok) sedang menyiapkan minuman untukku, segelas besar es teh manis.

Pada saat dia akan memberikan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk sambil membaca koran, gelas terlempar ke tempatku, dan dia terjerembab tepat di pangkuanku, kepalanya membentur keras kemaluanku yang hanya bersarung tipis. Spontan aku meringis kesakitan dengan badan yang sudah basah kuyup tersiram es teh manis, dia bangun membersihkan gelas yang jatuh sambil memohon maaf yang tidak henti-hentinya.

Cerita 

Sex

Semula aku akan marah, namun melihat wajahnya yang lugu aku jadi kasihan, sambil aku memegangi kemaluanku aku berkata, “Sudahlah nggak pa-pa, cuman iniku jadi pegel”, sambil menunjuk kemaluanku.

“Sum harus gimana Pak?” tanyanya lugu.

Aku berdiri sambil berganti kaos oblong, menyahut sambil iseng, “Ini musti diurut nih!”

“Ya, Pak nanti saya urut, tapi Sum bersihin ini dulu Pak!” jawabnya.

Aku langsung masuk kamar, perasaanku saat itu kaget bercampur senang, karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama kemudian dia mengetuk pintu, “Pak, Mana Pak yang harus Sum urut..” Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang masih lemas menggelantung. Sum menghampiri pinggir tempat tidur dan duduk.

“Pake, rhemason apa balsem Pak?” tanyanya.

“Jangan.. pake tangan aja, ntar bisa panas!” jawabku.

Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong kemaluanku bergerak tegang, ketika dia menggenggamnya.

“Pak, kok jadi besar?” tanyanya kaget.

“Wah itu bengkaknya mesti cepet-cepet diurut. Kasih ludahmu aja biar nggak seret”, kataku sedikit tegang.

Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diludahinya ujung kemaluanku.

“Ah.. kurang banyak”, bisikku bernafsu.

Kemudian kuangkat pantatku, sampai ujung kemaluanku menyentuh bibirnya, “Dimasukin aja ke mulutmu, biar nggak cape ngurut, dan cepet keluar yang bikin bengkak!” perintahku seenaknya.

Perlahan dia memasukkan kemaluanku, kepalanya kutuntun naik turun, awalnya kemaluanku kena giginya terus, tapi lama-lama mungkin dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali. “Akh.. uh.. uh.. hah..” Kulumannya semakin nikmat, ketika aku mau keluar aku bilang kepadanya, “Sum nanti kalau aku keluar, jangan dimuntahin ya, telan aja, sebab itu obat buat kesehatan, bagus sekali buat kamu”, bisikku. “Hepp.. ehm.. HPp”, jawabnya sambil melirikku dan terus mengulum naik turun. Akhirnya kumuncratkan semua air maniku. “Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhh..” Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing kepalanya agar tetap tidak melepas kulumannya.

Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya, “Udah Pak?, apa  masih sakit Pak?” tanyanya lugu, dengan wajah yang memelas, bibirnya  yang basah memerah, dan sedikit berkeringat. Aku tertegun memandang Sum  yang begitu menggairahkan saat itu, aku duduk menghampirinya, “Sum kamu  capek ya, apa kamu mau tahu kalau kamu diurut juga kamu bisa seger kayak  Bapak sekarang!”

“Nggak Pak, saya nggak capek, apa bener sih Pak  kalo diurut kayak tadi, bisa bikin seger? tanyanya semakin penasaran.  Aku hanya menjawab dengan anggukan dan sambil meraih pundaknya kucium  keningnya, lalu turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak  meronta juga tidak membalas. Aku merasakan keringat dinginnya mulai  keluar, ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama  sekali dia tidak berontak hingga tinggal celana dalam dan Bh-nya saja. Tiba-tiba dia berkata, “Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu dateng gimana Pak?” tanyanya takut. “Lho  Ibu kan baru nanti jam enam, sekarang baru jam tiga, jadi kita masih  bisa bikin seger badan”, jawabku penuh nafsu. Lalu semua kubuka tanpa  penutup, begitu juga aku, kemaluanku sudah mulai berdiri lagi. Dia  kurebahkan di tepi tempat tidur, lalu aku berjongkok di depan dengkulnya  yang masih tertutup rapat, “Buka pelan-pelan ya, nggak pa-pa kok, aku  cuma mau urut punya kamu”, kataku meyakinkan, lalu dia mulai membuka  pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang mengitari  liang kewanitaannya, cenderung botak.

Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar  kewanitaannya pembantu lugu korban seks majikan, tanpa ampun aku jilat,  sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam, “Akh.. Pak geli.. akh..  akuhhfh..” Klitorisnya basah mengkilat, berwarna merah jambu. Aku hisap,  hanya kira-kira 5 menit kulumat liang kewanitaannya, lalu dia berteriak  sambil menggeliat dan menjepit kepalaku dengan pahanya serta matanya  terpejam. “Akh.. akh.. uahh..” teriakan panjang disertai mengalirnya  cairan dari dalam liang kewanitaannya yang langsung kujilati sampai  bersih. “Gimana Sum, enak?” tanyaku nakal. Dia mengangguk sambil menggigit  bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. “Nah sekarang, kalau kamu  sudah ngerti enak, kita coba lagi ya, kamu nggak usah takut!”. Kuhampiri  bibirnya, kulumat bibirnya, dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah  dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia  menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa rileks dan mulai  memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, kemaluanku sudah tegang. Kemudian kuraba liang kewanitaannya yang ternyata sudah berlendir dan  basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke  dalam liang kenikmatannya, dia berteriak kecil, “Aauu.. sakit Pak!”.  Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, “Akhh.. uuf sakit  Pak..”. Melihat wajahnya yang hanya meringis dengan bibir basah,  kuteruskan tusukanku sambil berkata, “Ini nggak akan lama sakitnya,  nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya jangan dirasain..” tanpa  menunggu reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta  kesakitan, pada saat kemaluanku terbenam di dalam liang surganya kulihat  matanya berair (mungkin menangis) tapi aku sudah tidak memikirkannya  lagi, aku mulai mengayunkan semua nafsuku untuk si Sum.

Hanya sekitar 7 menit dia tidak memberikan reaksi, namun setelah itu  aku merasakan denyutan di dalam liang kewanitaannya, kehangatan cairan  liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan  mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah  membantu kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya  merangkul erat leherku, kakinya menjepit pinggangku, pantatnya naik  turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang, “Pak.. Pak  terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daapet enaakhh Pak.. ahh..” mendengar  erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan..  “Sum.. akh.. akh.. akh..” kusemprotkan semua maniku dalam liang  kewanitaannya, sambil kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia pun  lemas.

“Sum aku nikmat sekali, habis ini kamu mandi ya, terus beresin tempat  tidur ini ya!”, suruhku di tengah kenikmatan yang kurasakan.

Simak juga - Cerita Pemerkosaan Bule Cantik di Pulau Dewata

“Ya Pak”, jawabnya singkat sambil mengenakan pakaiannya kembali.Ketika  dia mau keluar kamar untuk mandi dia berbalik dan bertanya, “Pak.. kalo  pulang siang kayak gini telpon dulu ya Pak, biar Sum bisa mandi dulu,  terus bisa ngurutin Bapak lagi”, lalu ngeloyor keluar kamar, aku masih  tertegun dengan omongannya barusan, sambil menoleh ke sprei yang  terdapat bercak darah perawan Sum. Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, setiap 2 hari menjelang  menstruasi (datang bulannya sangat teratur), aku pulang lebih awal untuk  berhubungan dengan pembantuku yang Montok, namun hampir setiap hari di pagi hari  kurang lebih pukul 5, kemaluanku selalu dikulumnya saat dia mencuci di  ruang cuci, pada saat itu isteriku dan anak-anakku belum bangun. TAMAT

Cerita Pemerkosaan